Nama : Epi Sanjaya
Npm : 12213912
Kelas : 3EA14
SOFTSKILL
BAHASA INDONESIA 2
TUGAS
1
A.
PENALARAN
Penalaran
adalah suatu proses berpikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta
yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Data atau fakta yang akan dinalar
itu boleh benar dan boleh tidak benar. Di sinilah letaknya kerja penalaran.
Orang akan menerima data dan fakta yang benar dan tentu saja akan menolak fakta
yang belum jelas kebenarannya. Data yang
dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai satu simpulan ini harus
berbentuk kalimat pernyataan. Kalimat pernyataan yang dapat dipergunakan
sebagai data itu disebut proposisi.
Menurut
sumber lain menyebutkan, penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan
empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan
pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk
proposisi -proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang
diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang
sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran,
proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis(antesedens)
dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara
premis dan konklusi disebut konsekuensi.
B.
Definisi Penalaran Menurut Para Ahli
Keraf (1985: 5)
berpendapat bahwa penalaran adalah suatu proses berpikir dengan
menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk, yang menuju kepada suatu
kesimpulan.
Bakry (1986: 1)
menyatakan bahwa penalaran atau reasoning merupakan suatu konsep yang
paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu
kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah
diketahui.
Suria Sumantri (2001: 42)
mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir
dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.
C.
Ciri-Ciri Penalaran
Berikut ini merupakan
ciri-ciri penalaran:
1.
Adanya suatu pola berpikir yang secara
luas dapat disebut logika (penalaran merupakan suatu proses berpikir logis).
2.
Sifat analitik dari proses berpikir.
Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan
langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara
analitik.
Secara detail penalaran
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.
Logis, suatu penalaran harus memenuhi
unsur logis, artinya pemikiran yang ditimbang secara objektif dan didasarkan
pada data yang sahih.
2.
Analitis, berarti bahwa kegiatan
penalaran tidak terlepas dari daya imajinatif seseorang dalam merangkai,
menyusun atau menghubungkan petunjuk-petunjuk akal pikirannya ke dalam suatu
pola tertentu.
3.
Rasional, artinya adalah apa yang sedang
di nalar merupakan suatu fakta atau kenyataan yang memang dapat dipikirkan
secara mendalam.
D. Tahap-tahap Penalaran
Menurut John Dewey,
proses penalaran manusia dilakukan melalui beberapa tahap berikut:
1. Timbul rasa sulit, baik dalam bentuk
adaptasi terhadap alat, sulit mengenal sifat, ataupun dalam menerangkan hal-hal
yang muncul secara tiba-tiba.
2. Kemudian rasa sulit tersebut diberi
definisi dalam bentuk permasalahan.
3. Timbul suatu kemungkinan pemecahan yang berupa reka-reka,
hipotesis, inferensi atau teori.
4. Ide-ide pemecahan diuraikan secara
rasional melalui pembentukan implikasi dengan cara mengumpulkan bukti-bukti
(data).
Menguatkan pembuktian tentang ide-ide
tersebut dan menyimpulkan melalui keterangan-keterangan ataupun
percobaan-percobaan.
E. Konsep Dan Simbol Dalam Penalaran
Simbol
atau lambang yang digunakan dalam penalaran berbentuk bahasa, sehingga wujud
penalaran akan akan berupa argumen. Kesimpulannya adalah pernyataan atau konsep
adalah abstrak dengan simbol berupa kata, sedangkan untuk proposisi simbol yang
digunakan adalah kalimat (kalimat berita) dan penalaran menggunakan simbol
berupa argumen. Argumenlah yang dapat menentukan kebenaran konklusi dari
premis. Tiga bentuk pemikiran manusia adalah aktivitas berpikir yang saling
berkait. Tidak ada ada proposisi tanpa pengertian dan tidak akan ada penalaran
tanpa proposisi. Bersama – sama dengan terbentuknya pengertian perluasannya
akan terbentuk pula proposisi dan dari proposisi akan digunakan sebagai premis
bagi penalaran. Atau dapat juga dikatakan untuk menalar dibutuhkan proposisi
sedangkan proposisi merupakan hasil dari rangkaian pengertian.
F. Salah Nalar
Salah
nalar Kekeliruan dalam proses berpikir karena emosional, kecerobohan, atau
ketidaktahuan. Contoh: Menulis adalah keterampilan berbahasa yang paling sulit
di antara keterampilan berbahasa yang lain.
·
Macam-macam
salah nalar :
1. Generalisasi yang terlalu luas.
Semua anak yang jenius akan sukses dalam belajar. Semua pejabat pemerintah
korup.
2. Kerancuan analogi. Negara adalah
kapal berlayar menuju tanah harapan.
3. Kekeliruan kausalitas. Saya tidak
bisa berenang karena saya bukan keturunan perenang.
4. Kesalahan relevansi. Saya memilih
dia karena dia baik dengan saya.
5. Pembenaran. Semua juga begitu.
6. Kurang memahami persoalan.
Pendekatan komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang diarahkan pada bagaimana
berbicara.
7. Prestise seseorang. Hendaknya cermat
dalam mengutip pendapat orang.
Macam – macam generalisasi :
a. Generalisasi sempurna adalah
generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
b. Generalisasi tidak sempurna yaitu
generalisasi berdasarkan sebagian fenomena untuk mendapatkan kesimpulan yang
berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diselidiki.
CARA MENGUJI FAKTA DAN AUTORITAS
A. Cara Menguji Fakta
Untuk
menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta,
maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian
tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta,
sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua
yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat
kesimpulan yang akan diambil.
1. Konsistensi
2. Koherensi
B. Cara Menguji Autoritas
Seorang
penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari
tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan
pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian
atau data eksperimental.
1. Tidak mengandung prasangka
2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
3. Kemashuran dan prestise
4. Koherensi dengan kemajuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar